Jumat, 28 November 2008

Setelah IGOS Summit II: Masalah Migrasi Antara Open Source dan Proprietary

Berbagai instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan BUMN di Indonesia sedang dan akan bermigrasi dari penggunaan software proprietary ke software open source. Tidak semua proses migrasi dipastikan berjalan mulus. Beberapa masalah yang mengemuka dalam proses migrasi itu terkait dengan software atau hardware yang telah ada sebelum migrasi. Tiga masalah diantaranya sebagai berikut.

Masalah pertama adalah masih adanya software non open source atau proprietary yang tetap dibutuhkan namun tidak dapat dijalankan pada sistem operasi open source seperti Linux. Masalah pertama ini muncul biasanya karena tidak ada pilihan, atau ada pihak ketiga yang mengharuskan Anda menggunakan software proprietary untuk mengakses aplikasi buatannya. Masalah kedua adalah interoperabilitas file/data antara software open source dan proprietary yang ada sebelumnya atau yang masih harus dipertahankan. Masalah ketiga adalah adanya hardware yang belum tersedia driver-nya di Linux. Bagaimana cara mengatasi tiga masalah tersebut? Adakah program perantara?

Perantara Menjalankan Software Proprietary

Beberapa software yang telah ada (existing) sebelum migrasi ke open source tidak selalu dapat diganti atau turut dimigrasikan. Contoh software yang saat ini belum tersedia penggantinya di sistem operasi Linux atau open source adalah e-SPT (http://www.kanwilpajakkhusus.depkeu.go.id/eSPT.asp) untuk pelaporan pajak, software untuk urusan bea dan cukai, web browser untuk transaksi bank, pemesanan tiket pesawat, dan lain-lain. Setiap lembaga pemerintah atau perusahaan biasanya juga memiliki program yang dikembangkan sendiri atau oleh pihak ketiga hanya untuk sistem operasi sebelumnya, misalnya software sistem informasi manajemen, kepegawaian, atau keuangan berbasis MS Windows.

Pengalaman penulis menunjukkan kesulitan bertransaksi perbankan melalui www.permatanet.com. Pada saat artikel ini ditulis, penggunaan aplikasi web itu mengharuskan pengakses menggunakan Internet Explorer, browser web proprietary buatan Microsoft yang tidak/belum dibuat untuk Linux. Anda harus menjalankan paket Wine (http://www.winehq.org/) dan IEs4Linux (http://www.tatanka.com.br/ies4linux) untuk menjalakan Internet Explorer di Linux.

Bayangkan jika Anda mengelola perusahaan besar yang taat pajak. Anda akan kesulitan jika harus menjalankan laporan pajak secara manual, padahal tersedia software untuk memudahkan proses itu, misalnya e-SPT. Ini hanya sebagai contoh, karena banyak software lain, misalnya untuk urusan dengan pihak bea-cukai, yang awalnya dibuat hanya untuk MS Windows. Ketika Anda telah memutuskan migrasi, Anda bisa gagal menjalankan software-software seperti itu di sistem operasi open source, misalnya Linux. Bagaimana solusinya?

Ada beberapa pilihan yang dapat Anda ambil. Pilihan ideal adalah Anda mengusulkan pihak lain membuat ulang program itu agar berjalan baik di Linux. Pilihan lain, jalankan program perantara di Linux untuk menjalankan program yang awalnya untuk Windows, misalnya Wine atau yang sejenis. Jika Anda gagal menggunakan emulator seperti Wine, jalankan Virtual Machine (mesin maya), misalnya VMware, VirtualBox, atau yang sejenis. Berbeda dengan Wine, Virtual Machine tetap membutuhkan sistem operasi asli, misalnya MS Windows. Jika tetap gagal, Anda harus mempertahankan sebuah sistem operasi proprietary untuk menjalankan program-program itu sebagai perantara dengan software open source.

Perantara Pertukaran File/Data

File atau data yang telah ada sebelum migrasi belum tentu dapat diakses dari Linux atau sistem operasi open source lainnya. Sebagai contoh, file atau database MS Access atau MS SQL tidak langsung dapat dibaca dengan program database open source seperti OpenOffice Base atau MySQL. Program macro yang ada di dalam file MS Excel juga tidak langsung dapat dijalankan di program spreadsheet open source seperti OpenOffice Calc. Dan masih banyak contoh lainnya. Bagaimana solusinya?

Dalam urusan dokumen telah ada standar dokumen terbuka ODF (Open Document Format) sesuai ISO 63200 yang telah didukung sepenuhnya oleh OpenOffice, KOffice, dan aplikasi office open source lainnya. Untuk mengakses file dokumen biasa seperti dokumen teks DOC, dokumen spreadsheet XLS, dan dokumen presentasi PPT, Anda dapat menggunakan OpenOffice sebagai perantara. OpenOffice dapat membuka file MS Office untuk diubah menjadi format open, dan sebaliknya OpenOffice dapat menyimpan format open menjadi format MS Office.

Jika menemukan kesulitan seperti adanya program macro di XLS atau animasi di PPT, Anda perlu program perantara. Misalnya program untuk membaca macro MS Excel dan menerjemahkan menjadi macro di OpenOffice Calc, dan program pengakses animasi di PPT untuk dijalankan dengan di Linux, lalu diakses oleh OpenOffice Impress.

Dalam urusan database, terdapat program open source Kexi (www.kexi-project.org) untuk mengakses database proprietary dan sebagai pengganti MS Access. Lebih khusus untuk MS Access, Anda dapat menggunakan mdbtools (http://mdbtools.sourceforge.net) untuk menjadi perantara dari MS Access ke database open source seperti MySQL, PostgreSQL, dan lain-lain.

Untuk sistem yang lebih kompleks, misalnya pertukaran data antara sistem informasi lama (proprietary) dengan yang baru (open source) atau antar sistem open source dapat menggunakan software khusus untuk itu, misalnya PASIR (http://sourceforge.net/projects/pasir) atau yang sejenis.

Perantara Hardware yang Tidak Linux Friendly

Tidak semua vendor hardware atau pembuat pheriperal menyediakan driver untuk Linux. Contoh hardware itu antara lain sebagian kecil scanner, printer, webcam, kartu wireless, pembaca kartu memori, dan sebagian besar modem internal atau winmodem. Karena tidak semua hardware itu langsung dapat dijalankan di Linux, sebaiknya mengujinya di Linux sebelum membeli produk-produk itu.

Jika Anda membeli hardware baru, misalnya printer atau scanner, biasanya tidak dilengkapi driver untuk Linux. CD/DVD distro Linux biasanya telah berisi kumpulan driver printer dalam paket CUPS (www.cups.org), dan kumpulan driver scanner dalam paket SANE (www.sane-project.org). Jika distro Linux yang Anda gunakan lebih lama dari printer dan scanner yang Anda beli, kemungkinan besar hardware tidak dapat digunakan secara sempurna. Solusi untuk ini, Anda harus mendownload driver yang lebih baru untuk distro Linux yang Anda gunakan. Jika gagal, Anda dapat memilih software perantara, yaitu driver non open source yang disediakan oleh TurboPrint .

Kartu wileress yang tidak dapat digunakan di Linux karena tidak tersedia driver di CD/DVD, masih berpeluang dapat digunakan dengan perantara ndiswrapper (http://ndiswrapper.sourceforge.net). Ndiswrapper adalah software untuk menjalankan driver kartu wireless di Linux, meskipun driver itu dibuat untuk Windows. Ada kemungkinan printer atau hardware tertentu akan menggunakan cara ini, yaitu membuat software perantara untuk menggunakan driver untuk Windows di Linux.

Perantara Akhir

Idealnya, dalam proses migrasi dari software proprietary ke software open source perlu dipastikan ada program perantara. Bagaimana kalau program perantara itu belum ada? Atau Anda benar-benar gagal menjalankan program lama di Linux, atau gagal mengakses file/data lama, atau gagal menjalankan hardware yang sangat penting Anda butuhkan di Linux seperti modem internal? Solusi-solusi berikut ini penulis sebut sebagai perantara akhir.

Jika Anda gagal menggunakan emulator atau mesin maya, Anda terpaksa harus mempertahakan sebagian sistem operasi proprietary untuk menjalankan software yang belum dapat dijalankan di Linux. Dalam kasus ini, sistem operasi proprietary itu juga dapat berfungsi sebagai program perantara, misalnya mengakses software lama dan mengubah hasilnya agar dapat diakses oleh Linux. Misalnya, software akuntansi dapat mengubah hasilnya menjadi MS Excel, kemudian OpenOffice mengubah format dokumen tertutup MS Excel (XLS) menjadi format dokumen terbuka OpenOffice Calc (ODS) sehingga dapat diakses oleh semua program open source lainnya.

Jika gagal mendapatkan pengganti software penting lainnya bagi Anda, misalnya AutoCAD, maka Anda terpaksa juga harus mempertahankan sistem operasi MS Windows dan software proprietary lainnya seperti AutoCAD itu. Mempertahankan sebagian sistem operasi proprietary sebagai perantara akhir juga berguna untuk mengakses hardware yang belum tersedia driver-nya di Linux, misalnya scanner dan printer merek/tipe tertentu.

Namun, hitungan biaya total kepemilikan atau TCO (Total Cost of Ownership) terhadap hardware dan software perlu Anda hitung secara matang. Membeli lisensi software proprietary bisa jadi lebih murah daripada membeli hardware baru. Demikian pula sebaliknya, membeli atau menukar tambah hardware seperti modem, printer dan scanner yang dipastikan jalan di Linux bisa jadi lebih murah daripada membeli lisensi software proprietary seperti MS Windows Vista.

Oleh Rusmanto ( rus@infolinux.co.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

Pemimpin Redaksi Majalah InfoLINUX dan Ketua Yayasan Penggerak Linux Indonesia

http://jakarta.wartaegov.com

....... Wha dah lama banget gak ngulik si Tux ..................

3 komentar:

Elsa mengatakan...

linux itu si pinguin ya logonya...
ada bonekanya gak ya?
lucu sih...

Madu Nektar mengatakan...

yup ... si Tux namanya, .. yah gi abis stoknya sa,....

mahasiswa teladan mengatakan...

saya mahasiswa dari Jurusan Informatika
Artikel yang sangat menarik, bisa buat referensi ini ..
terimakasih ya infonya :)